Laman

3/04/2014

DIJUAL BARANG ANTIK RADIO TABUNG , GRAMAPHONE , DANDANG , BOKOR , LAMPU GANTUNG , KAMPAK BATU , SETRIKA AYAM JAGO , LAMPU TIDUR ,

yang minat silahkan MASING MASING HARGA BISA NANYA DAN DI CEK LOKASI buat yang minat serius barang ada di jl tikukur no 11 komplek griya bukit manglayang cinunuk cileunyi bandung masuk dari pangkalan ojeg ciguruwik. untuk peminat serius telepon 08562022228 PIN BB : 291754DC ( syakur asaori)

DIJUAL RADIO ANTIK BERBAGAI RADIO TRANSISTOR NATIONAL JVC PANASONIC

kondisi jalan suara jernih yang minat silahkan buat yang minat serius barang ada di jl tikukur no 11 komplek griya bukit manglayang cinunuk cileunyi bandung masuk dari pangkalan ojeg ciguruwik. untuk peminat serius telepon 08562022228 PIN BB : 291754DC ( syakur asaori)

RADIO TABUNG PHILIPS BX 745 A / 60

radio tabung buatan holand seri bx 745 a/ 60 yang membuktikan kode bx adalah angkatan 40 han dan kode angka 7 berarti harga pada saat itu lumayan mahal angka 4 menunjukan tahun pembuatan jadi di produksi tahun 1954 kode 5 menunjukan Urutan kelima adalah nomer serial pembeda radio. Hal ini dilakukan karena pada tahun yang sama kemungkinan besar Philips memperoduksi beberapa tipe radio sehingga untuk membedakan jenisnya digunakan angka serial ini. dan kode A berarti listrik pake aliran ac ukuran besar panjang 60 cm lebar kebawah 40 cm lebar atas 25 cm berat kisaran 14 kg barang termasuk langka ( limited) kondisi body yah lumayan angkatan tua sedikit ada keropos mesin original kondisi hidup namun perlu ada sentuhan. buat yang minat serius barang ada di jl tikukur no 9 komplek griya bukit manglayang cinunuk cileunyi bandung masuk dari pangkalan ojeg ciguruwik. untuk peminat serius telepon 08562022228 PIN BB : 291754DC ( syakur asaori)

11/05/2011

Bisnis Makanan Dengan Modal Kecil

sedikit copas ,,,,, Memiliki modal usaha yang minim sering kali membuat sebagian besar orang mengurungkan niatnya untuk memulai usaha. Padahal sebenarnya jika mereka jeli, saat ini sudah banyak peluang usaha yang dapat dijalankan dengan modal kecil. Salah satunya yaitu peluang bisnis di bidang makanan. Nah, bagi Anda yang tertarik mencoba peluang bisnis makanan dengan modal kecil, pekan ini kami informasikan salah satu ide bisnis di bidang makanan yang bisa dijalankan dengan murah dan mudah. Tingginya permintaan pasar akan berbagai jenis produk makanan terutama lauk pauk, membuat berbagai peluang bisnis di bidang ini menjanjikan untung besar bagi setiap pelakunya. Kesempatan inilah yang dapat Anda manfaatkan untuk memperoleh omset besar setiap bulannya. Anda dapat membuka bisnis makanan yang menawarkan aneka macam lauk pauk kepada konsumen disekitar rumah Anda. Konsumen Menyajikan berbagai macam aneka lauk sebagai peluang usaha, tentunya memberikan kesempatan bagi Anda untuk membidik target pasar yang cukup luas. Mulai konsumen anak kost yang terdiri dari para pelajar, mahasiswa maupun karyawan, sampai para ibu rumah tangga dan masyarakat umum lainnya, bisa Anda jadikan sebagai target konsumen yang cukup potensial.

9/06/2011

TAAT KEPADA ALLAH DAN RASUL

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Puji syukur tak henti kami panjatkan kehadirat Ilahi Rabbi yang tak pernah lelah melimpahkan nikmat serta rahmat-Nya kepada kita semua. Shalawat serta salam selalu kita haturkan kepada junjungan nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarga beserta sahabatnya. Temen-temen yang kami cintai karena Allah. Kalau beberapa minggu yang lalu kami membahas tentang karakteristik lelaki shalih- yang salah satunya adalah ikhlas dalam beramal- maka kali ini yang kedua adalah; Taat Kepada Allah dan Rasul-Nya. Generasi manusia terbaik sepanjang sejarah kemanusiaan ialah generasi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya kemudian generasi tabi’in dan Tabi’ut-Tabi’in. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasaallam telah memberi kabar sekaligus jaminan tentang kemuliaan dan ketinggian derajat generasi-generasi tersebut dengan sabdanya yang artinya: “Sebaik-baik kurun (abad) ialah abadku kemudian abad sesudahku kemudian abad sesudahku.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, at-Tirmidzi dan Nasa’i) Informasi ini tidak saja sebagai kabar berita bahkan petunjuk yang sangat jelas dan terang bagi umat islam. Kelak di kemudian hari akan tumbuh berbagai kesamaran (syubhat) dan fitnah yang datang melanda. Sedangkan di saat itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sudah tiada lagi, maka hendaklah umat islam kembali kepada Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengikuti bagaimana cara hidup orang-orang yang telah dijamin kebaikan dan ketinggian martabat dan budi pekertinya di sisi Allah. Dengan mengikuti hidup yang telah ditempuh orang-orang terbaik inilah syarat keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Cara inilah yang disebut sebagai Manhaj salafus Shalih. Gambaran kepatuhan dan ketaatan mereka dapat kita saksikan dalam peristiwa-peristiwa berikut ini: “Ubaidillah bin Shamid radhiyallahu ‘anh berkata: “Kami keluar bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti perang Badar, maka berhadapan dua golongan dan Allah mengalahkan kaum kafir. Saat aku bersama kawan-kawanku mengejar musuh untuk membunuh mereka, dan sebagian yang lain mengumpulkan apa yang telah ditinggalkan oleh musuh, sedang sebagian yang lain menjaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam supaya jangan didekati oleh musuh hingga waktu malam. Maka orang-orang pada kembali berkumpul, maka berkata orang-orang yang mengumpulkan Ghanimah, “Kami yang mengumpulkan, maka kami yang berhak, dan yang lain tidak punya hak dalam Ghanimah ini.” Lalu orang-orang yang mengejar musuh berkata, “Kalian tidak lebih berhak dari kami, sebab kamilah yang menghalau musuh.” Dan orang-orang yang menjaga Nabi berkata, “Kamilah yang berhak karena menjaga keselamatan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, kami khawatir musuh menculik beliau. Maka karena itulah turun surat Al-Anfal ayat 1. Artinya, “Mereka bertanya kepadamu tentang harta rampasan perang. Katakanlah bahwa harta rampasan perang itu adalah milik Allah dan Rasul-Nya. Maka hendaklah kalian tetap bertaqwa kepada Allah dan memperbaiki apa yang terjadi diantara kamu.” (HR Ahmad) Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anh berkata: “Ketika Perang Badar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa berbuat ini, maka mendapat ini”. Maka bergegaslah para pemuda, sedangkan orang-orang tua tetap menjaga panji (bendera), kemudian setelah selesai (Perang Badar), dan tiba pembagian ghanimah, mereka datang dan meminta apa yang telah dijanjikan Nabi itu. Maka berkatalah orang-orang tua, “Kalian jangan monopoli atas kami, sebab kamilah yang menjadi benteng pertahananmu. Sekiranya kamu tidak dapat bertahan tentu kamu akan lari kepada kami. Karena hal tersebut terjadilah perselisihan, akhirnya Allah menurunkan satu ayat ini.” (HR Abu Dawud). Dengan turunnya ayat tersebut di atas, berakhirlah pertengkaran dan perbedaan pendapat, ketika ada seruan bahwa harta rampasan perang adalah milik Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada lagi suara gerutu, tetapi wajah-wajah shalih menunduk, air mata mengalir. Seakan-akan suara halilintar yang memecah kesunyian, “Itu bukan hak kalian, mengapa kalian bertengkar? Takutlah kepada Allah dan perbaikilah diantara kamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman”. Hati yang penuh iman, begitu dibacakan ayat-ayat Allah dan diperingatkan dengan wahyu-Nya, seraya mereka bersujud. Diantara orang-orang shalih, terkadang muncul perselisihan atau perbedaan pendapat. Tetapi persaudaraan yang dibangun di atas fondasi aqidah sedemikian kuat. Kasih sayang di antara mereka begitu mendalam, sehingga mampu meretas (melerai) kebekuan hati, dan perbedaan yang muncul tidak membuat mereka saling bermusuhan. Mereka semua kembali kepada pangkuan Allah dan Rasul-Nya, dan menyerah patuh manakala wahyu allah datang memberi jalan keluar bagi persoalan yang mereka hadapi. “Mereka berkata, “Kami mendengar dan kami siap mematuhi.” Sambil berdo’a,”Ampunilah kami ya Rabb kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS al-Baqarah: 285) Dan pada waktu perjanjian Hudaibiyah yang menghebohkan kaum muslimin, yang hasilnya membuat mereka kecewa. Maka ketika urusan telah selesai dan tidak tinggal kecuali kitab, Umar mendatangi Abu Bakar dan berkata: Umar : “Wahai abu Bakar, bukankah dia Rasulullah dan kita ini muslimin?” Abu Bakar : “Ya, kita muslimin.” Umar : “Bukankah mereka musyrik?” Abu Bakar : “Ya, mereka musyrik.” Umar : “Maka apa alasan kita memberikan kerendahan atas dien kita?” Abu Bakar : “Wahai Umar, pahamilah duduk persoalan dan sesungguhnya dia adalah Rasulullah”. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: Umar : “wahai Rasulullah, bukankah engkau ini rasul dan kita ini muslimin?” Rasul : “Ya”. Umar : “Bukankah mereka musyrik?” Rasul : “Ya”. Umar : “Apa alasan kita memberikan kerendahan atas dien kita?” Rasul : “Aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, tidak sekali-kali aku akan menyalahi perintah-Nya, dan Allah sekali-kali tidak akan membiarkan aku. Umar : “Aku masih tetap bersedekah, shaum, shalat dan membebaskan Orang seperti yang aku perbuat pada hari ini, karena aku takut terhadap ucapan yang telah aku ucapkan dan aku berharap semuanya baik. Umar yang pemberani, yang gagah dan perkasa. Siapa pun diterjang jika tak sesuai dengan pemikirannya yang cerdas dan perasaan yang tajam. Tetapi jika datang peringatan Allah dan Rasul-Nya, meskipun datang dari seorang hamba atau seorang wanita, maka Umar langsung tunduk dan bersujud kepada Allah dan patuh kepada tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam . Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya: “Atas seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam hal yang ia suka dan tidak suka, kecuali diperintah kepada maksiat. Maka jika diperintah dalam hal maksiat, tidak boleh mendengar dan taat.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, at-Tirmidzi, Nasa’I, Abu Dawud, dan Ibnu majah). Tarbiyah Nabawiyah dan pembinaan ini betul-betul telah menjadi darah daging bagi seluruh sahabat Nabi di masa hidup beliau. Lihatlah perselisihan dikalangan para sahabat dalam hal pembagian ghanimah, ketika usai perang Badar Kubra, ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah. Sehingga Ali bin Abi Thalib pun enggan diperintah menghapus kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah ditulis di atas kertas perjanjian. Terpaksa Rasulullah sendiri yang menghapusnya. Selain Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib yang tidak puas dengan isi perjanjian tersebut, sahabat-sahabat yang lain pun merasa geram dan marah serta tidak puas. Tetapi ketika telah diambil keputusan, tidak seorang pun yang menolak dan membantah. Demikianlah gambaran ketaatan dan kepatuhan seorang shalih kepada Allah dan Rasul-Nya. Semoga kita dapat mengambil ‘Ibrah dan pelajaran serta sifat-sifat para shalihin dan masa lampau. Sumber: Karakteristik Lelaki Shalih, Abu Muhammad Jibriel Abdul Rahman

8/08/2011

Bersikap Muahadah, Mujahadah, Muraqabah, Muhasabah, dan Muaqabah dalam Membangun Hari Esok yang lebih baik

Bersikap Muahadah, Mujahadah, Muraqabah, Muhasabah, dan Muaqabah dalam Membangun Hari Esok yang lebih baik


Oleh : H. Mas’oed Abidin



يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa (orang) memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Al Hasyr : 18)

Adalah menjadi kewajiban setiap orang merancang dan mempersiapkan hari esok yang lebih baik.

Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa seorang akan merugi kalau hari esoknya sama saja dengan hari ini, bahkan dia menjadi terkutuk jika hari ini lebih buruk dari kemarin. Seseorang baru dikatan bahagia, jika hari esok itu lebih baik dari hari ini.

Membangun hari esok yang baik, sesuai dengan ayat (wahyu Allah SWT) di atas dimulai dengan perintah bertaqwa kepada Allah dan di akhiri dengan perintah yang sama. Ini mengisyaratkan bahwa landasan berfikir, serta tempat bertolak untuk mempersiapkan hari esok haruslah dengan taqwa.

Semestinya orang Mukmin punya langkah antisipatif terhadap kemungkinan yang dapat terjadi esok disebabkan kelalaian hari ini.

Seorang mukmin sudah dapat memprediksi dan mempersiapkan hari esok yang lebih baik, dinamis, lebih mapan, lebih produktif dari pada hari ini.

Simpulannya, mesti ada peningkatan prestasi dari hari ke hari. Hari esok dapat berarti masa depan dalam kehidupan pendek di dunia ini.

Hari esok juga berarti pula hari esok yang hakiki, yang kekal abadi di akhirat kelak.

Hari esok mesti dirancang harus lebih baik dari hari ini, dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, dengan melaksanakan lima “M ” ; yaitu Mu’ahadah, Mujahadah, Muraqabah, Muhasabah, dan Mu’aqabah.[1]



1. Mu’ahadah

Mu’ahadah adalah mengingat perjanjian dengan Allah SWT. Sebelum manusia lahir ke dunia, masih berada pada alam gaib, yaitu di alam arwah, Allah telah membuat “kontrak” tauhid dengan ruh.

Kontrak tauhid ini terjadi ketika manusia masih dalam keadaan ruh belum berupa materi (badan jasmani). Karena itu, logis sekali jika manusia tidak pernah merasa membuat kontrak tauhid tersebut.

Mu’ahadah konkritnya diikrarkan oleh manusia mukmin kepada Allah setelah kelahirannya ke dunia, berupa ikrar janji kepada Allah. Wujudnya terefleksi minimal 17 kali dalam sehari dan semalam, bagi yang menunaikan shalat wajib, sebagaimana tertera di dalam surat Al Fatihah ayat 5 yang berbunyi: “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”. Artinya, engkau semata wahai Allah yang kami sembah, dan engkau semata pula tempat kami menyandarkan permohonan dan permintaan pertolongan.

Ikrar janji ini mengandung ketinggian dan kemantapan aqidah. Mengakui tidak ada lain yang berhak disembah dan dimintai pertolongan, kecuali hanya Allah semata.

Tidak ada satupun bentuk ibadah dan isti’anah (Permintaan Pertolongan) yang boleh dialamatkan kepada selain Allah SWT.[2]

Mu’ahadah yang lain adalah ikrar manusia ketika mengucapkan kalimat “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya kuperuntukkan (ku-abdikan) bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam.”



2. Mujahadah

Mujahadah berarti bersungguh hati melaksanakan ibadah dan teguh berkarya amal shaleh, sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah SWT yang sekaligus menjadi amanat serta tujuan diciptakannya manusia.

Dengan beribadah, manusia menjadikan dirinya ‘abdun (hamba) yang dituntut berbakti dan mengabdi kepada Ma’bud (Allah Maha Menjadikan) sebagai konsekuensi manusia sebagai hamba wajib berbakti (beribadah).

Mujahadah adalah sarana menunjukkan ketaatan seorang hamba kepada Allah, sebagai wujud keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya. Di antara perintah Allah SWT kepada manusia adalah untuk selalu berdedikasi dan berkarya secara optimal.

Hal ini dijelaskan di dalam Al Qur’an Surat At Taubah ayat: 5,

“Dan katakanlah, bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitahukan-Nya kepada kamu apa-apa yang telah kamu kerjakan.”

Orang-orang yang selalu bermujahadah merealisasikan keimanannya dengan beribadah dan beramal shaleh dijanjikan akan mendapatkan petunjuk jalan kebenaran untuk menuju (ridha) Allah SWT hidayah dan rusyda yang dijanjikan Allah diberikan kepada yang terus bermujahadah dengan istiqamah.

Kecerdasan dan kearifan akan memandu dengan selalu ingat kepada Allah SWT, tidak terpukau oleh bujuk rayu hawa nafsu dan syetan yang terus menggoda.

Situasi batin dari orang-orang yang terus musyahadah (menyaksikan) keagungan Ilahi amat tenang. Sehingga tak ada kewajiban yang diperintah dilalaikan dan tidak ada larangan Allah yang dilanggar.

Jiwa yang memiliki rusyda terus hadir dengan khusyu’. Inilah sebenarnya yang disebut mujahidin ‘ala nafsini wa jawarihihi, yaitu orang yang selalu bersungguh dengan nuraninya dan gerakannya.

Syeikh Abu Ali Ad Daqqaq mengatakan: “Barangsiapa menghias lahiriahnya dengan mujahadah, Allah akan memperindah rahasia batinnya melalui musyahadah.”

Imam Al Qusyairi an Naisaburi [3] mengomentari tentang mujahadah sebagai berikut:

« Jiwa mempunyai dua sifat yang menghalanginya dalam mencari kebaikan; Pertama larut dalam mengikuti hawa nafsu, Kedua ingkar terhadap ketaatan.

Manakala jiwa ditunggangi nafsu, wajib dikendalikan dengan kendali taqwa. Manakala jiwa bersikeras ingkar kepada kehendak Tuhan, wajib dilunakkan dengan menolak keinginan hawa nafsunya.

Manakala jiwa bangkit memberontak, wajib ditaklukkan dengan musyahadah dan istigfar.

Sesungguhnya bertahan dalam lapar (puasa) dan bangun malam di perempat malam (tahajjud), adalah sesuatu yang mudah.

Sedangkan membina akhlak dan membersihkan jiwa dari sesuatu yang mengotorinya sangatlah sulit. »

Mujahadah adalah suatu keniscayaan yang mesti diperbuat oleh siapa saja yang ingin kebersihan jiwa serta kematangan iman dan taqwa.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيد ِ * إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ * مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Dan sesunggunya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan adal di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir”. (Q.S. Qaaf: 16-18).



3. Muraqabah

Muraqabah artinya merasa selalu diawasi oleh Allah SWT sehingga dengan kesadaran ini mendorong manusia senantiasa rajin melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Sesungguhnya manusia hakikinya selalu berhasrat dan ingin kepada kebaikan dan menjunjung nilai kejujuran dan keadilan, meskipun tidak ada orang yang melihatnya.

Kehati-hatian (mawas diri) adalah kesadaran. Kesadaran ini makin terpelihara dalam diri seseorang hamba jika meyakini bahwa Allah SWT senantiasa melihat dirinya.

Syeikh Ahmad bin Muhammad Ibnu Al Husain Al Jurairy mengatakan, « “Jalan kesuksesan itu dibangun di atas dua bagian. Pertama, hendaknya engkau memaksa jiwamu muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah SWT. Kedua, hendaknya ilmu yang engkau miliki tampak di dalam perilaku lahiriahmu sehari-hari.” »

Syeikh Abu Utsman Al Maghriby mengatakan, « “Abu Hafs mengatakan kepadaku, ‘manakala engkau duduk mengajar orang banyak jadilah seorang penasehat kepada hati dan jiwamu sendiri dan jangan biarkan dirimu tertipu oleh ramainya orang berkumpul di sekelilingmu, sebab mungkin mereka hanya melihat wujud lahiriahmu, sedangkan Allah SWT memperhatikan wujud batinmu.” »

Dalam setiap keadaan seorang hamba tidak akan pernah terlepas dari ujian yang harus disikapinya dengan kesabaran, serta nikmat yang harus disyukuri. Muraqabah adalah tidak berlepas diri dari kewajiban yang difardhukan Allah SWT yang mesti dilaksanakan, dan larangan yang wajib dihindari.

Muraqabah dapat membentuk mental dan kepribadian seseorang sehingga ia menjadi manusia yang jujur.

« Berlaku jujurlah engkau dalam perkara sekecil apapun dan di manapun engkau berada.

Kejujuran dan keikhlasan adalah dua hal yang harus engkau realisasikan dalam hidupmu. Ia akan bermanfaat bagi dirimu sendiri.

Ikatlah ucapanmu, baik yang lahir maupun yang batin, karena malaikat senantiasa mengontrolmu. Allah SWT Maha Mengetahui segala hal di dalam batin.

Seharusnya engkau malu kepada Allah SWT dalam setiap kesempatan dan seyogyanya hukum Allah SWT menjadi pegangan dlam keseharianmu.

Jangan engkau turuti hawa nafsu dan bisikan syetan, jangan sekali-kali engkau berbuat riya’ dan nifaq. Tindakan itu adalah batil. Kalau engkau berbuat demikian maka engkau akan disiksa.

Engkau berdusta, padalah Allah SWT mengetahui apa yang engkau rahasiakan. Bagi Allah tidak ada perbedaan antara yang tersembunyi dan yang terang-terangan, semuanya sama.

Bertaubatlah engkau kepada-Nya dan dekatkanlah diri kepada-Nya (Bertaqarrub) dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya.” » [4]

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إلاَّ مَا سَعَى وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ اْلأَوْفَى وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya DIA yang menjadikan orang tertawa dan menangis, dan bahwasanya DIA yang mematikan dan yang menghidupkan.” (QS. An-Najm: 39-44)



4. Muhasabah

Muhasabah berarti introspeksi diri, menghitung diri dengan amal yang telah dilakukan. Manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu diri, dan selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan kelak yang abadi di yaumul akhir.

Dengan melakasanakan Muhasabah, seorang hamba akan selalu menggunakan waktu dan jatah hidupnya dengan sebaik-baiknya, dengan penuh perhitungan baik amal ibadah mahdhah maupun amal sholeh berkaitan kehidupan bermasyarakat. Allah SWT memerintahkan hamba untuk selalu mengintrospeksi dirinya dengan meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. melaksanakan shalat shubuh. Selesai salam, ia menoleh ke sebelah kanannya dengan sedih hati. Dia merenung di tempat duduknya hingga terbit matahari, dan berkata ;

« “Demi Allah, aku telah melihat para sahabat (Nabi) Muhammad SAW. Dan sekarang aku tidak melihat sesuatu yang menyerupai mereka sama sekali. Mereka dahulu berdebu dan pucat pasi, mereka melewatkan malam hari dengan sujud dan berdiri karena Allah, mereka membaca kitab Allah dengan bergantian (mengganti-ganti tempat) pijakan kaki dan jidat mereka apabila menyebut Allah, mereka bergetar seperti pohon bergetar diterpa angin, mata mereka mengucurkan air mata membasahi pakaian mereka dan orang-orang sekarang seakan-akan lalai (bila dibandingkan dengan mereka).” »

Muhasabah dapat dilaksanakan dengan cara meningkatkan ubudiyah serta mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Berbicara tentang waktu, seorang ulama yang bernama Malik bin Nabi berkata ; « “Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali ia berseru, “Wahai anak cucu Adam, aku ciptaan baru yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat.” » [5]

Waktu terus berlalu, ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya. Allah SWT bersumpah dengan berbagai kata yang menunjuk pada waktu seperti Wa Al Lail (demi malam), Wa An Nahr (demi siang), dan lain-lain.

Waktu adalah modal utama manusia. Apabila tidak dipergunakan dengan baik, waktu akan terus berlalu. Banyak sekali hadits Nabi SAW yang memperingatkan manusia agar mempergunakan waktu dan mengaturnya sebaik mungkin.

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا َكثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَ الفَرَاغُ

“Dua nikmat yang sering disia-siakan banyak orang: Kesehatan dan kesempatan (waktu luang).” (H.R. Bukhari melalui Ibnu Abbas r.a).



5. Mu’aqabah

Muaqabah artinya pemberian sanksi terhadap diri sendiri. Apabila melakukan kesalahan atau sesuatu yang bersifat dosa maka ia segera menghapus dengan amal yang lebih utama meskipun terasa berat, seperti berinfaq dan sebagainya.

Kesalahan maupun dosa adalah kesesatan.

Oleh karena itu agar manusia tidak tersesat hendaklah manusia bertaubat kepada Allah, mengerjakan kebajikan sesuai dengan norma yang ditentukan untuk menuju ridha dan ampunan Allah.

Berkubang dan hanyut dalam kesalahan adalah perbuatan yang melampaui batas dan wajib ditinggalkan.

Di dalam ajaran Islam, orang baik adalah orang yang manakala berbuat salah, bersegera mengakui dirinya salah, kemudian bertaubat, dalam arti kembali ke jalan Allah dan berniat dan berupaya kuat untuk tidak akan pernah mengulanginya untuk kedua kalinya.

Shadaqallahul’azhim. Allahu A’lamu Bissawab.



Catatan kaki ;

[1] Syeikh Abdullah Nasih ‘Ulwan dalam bukunya ‘Ruhniyatut Da’iyah’

[2] Demikian komentar Imam as Syaukani dalam kitab tafsirnya ‘Fathul Qadir’ dan Syeikh Ali As Shabuni dalam kitab tafsirnya ‘Shafwatut Tafaasir’.

[3] Kitab tasawuf, “Risalatul Qusyairiyah”.

[4] Syeikh Abdul Kadir Jailany memberikan nasehat kepada kita sebagaimana yang terdapat dalam kitabnya Al Fathu Arrabbaani wa Al Faidh Ar Rahmaani.

[5] Malik bin Nabi dalam bukunya Syuruth An Nahdhah