Laman

8/21/2009

Marhaban ( Selamat datang ) Yaa Ramadhan

Marhaban Yaa Ramadhan
Ditulis oleh Muhammad Niam

Seluruh umat Islam kini menyerukan 'Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban Ya Ramadhan", selamat datang Ramadhan, Selamat datang Ramadhan. Di masjid-masjid, musholla, koran-koran, stasiun televisi dan radio dan berbagai mailing list, ungkapan selamat datang Ramadhan tampil dengan berbagai ekpresi yang variatif.

Setiap media telah siap dengan dengan sederet agendanya masing-masing. Ada rasa gembira, ke-khusyu'-an, harapan, semangat dan nuansa spiritualitas lainnya yang sarat makna untuk diekpresikan. Itulah Ramadhan, bulan yang tahun lalu kita lepas kepergiannya dengan linangan air mata, kini datang kembali.

Sejumlah nilai-nilai dan hikmah-hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa pun marak dikaji dan kembangkan. Ada nilai sosial, perdamaian, kemanusiaan, semangat gotong royong, solidaritas, kebersamaan, persahabatan dan semangat prularisme. Ada pula manfaat lahiriah seperti: pemulihan kesehatan (terutama perncernaan dan metabolisme), peningkatan intelektual, kemesraan dan keharmonisan keluarga, kasih sayang, pengelolaan hawa nafsu dan penyempurnaan nilai kepribadian lainnya. Ada lagi aspek spiritualitas: puasa untuk peningkatan kecerdasan spiritual, ketaqwaan dan penjernihan hati nurani dalam berdialog dengan al-Khaliq. Semuanya adalah nilai-nilai positif yang terkandung dalam puasa yang selayaknya tidak hanya kita pahami sebagai wacana yang memenuhi intelektualitas kita, namun menuntut implementasi dan penghayatan dalam setiap aspek kehidupan kita.

Yang juga penting dalam menyambut bulan Ramadhan tentunya adalah bagaimana kita merancang langkah strategis dalam mengisinya agar mampu memproduksi nilai-nilai positif dan hikmah yang dikandungnya. Jadi, bukan hanya melulu mikir menu untuk berbuka puasa dan sahur saja. Namun, kita sangat perlu menyusun menu rohani dan ibadah kita. Kalau direnungkan, menu buka dan sahur bahkan sering lebih istemawa (baca: mewah) dibanding dengan makanan keseharian kita. Tentunya, kita harus menyusun menu ibadah di bulan suci ini dengan kualitas yang lebih baik dan daripada hari-hari biasa. Dengan begitu kita benar-benar dapat merayakan kegemilangan bulan kemenangan ini dengan lebih mumpuni.

Ramadhan adalah bulan penyemangat. Bulan yang mengisi kembali baterai jiwa setiap muslim. Ramadhan sebagai 'Shahrul Ibadah' harus kita maknai dengan semangat pengamalan ibadah yang sempurna. Ramadhan sebagai 'Shahrul Fath' (bulan kemenangan) harus kita maknai dengan memenangkan kebaikan atas segala keburukan. Ramadhan sebagai "Shahrul Huda" (bulan petunjuk) harus kita implementasikan dengan semangat mengajak kepada jalan yang benar, kepada ajaran Al-Qur'an dan ajaran Nabi Muhammad Saw. Ramadhan sebagai "Shahrus-Salam" harus kita maknai dengan mempromosikan perdamaian dan keteduhan. Ramadhan sebagai 'Shahrul-Jihad" (bulan perjuangan) harus kita realisasikan dengan perjuangan menentang kedzaliman dan ketidakadilan di muka bumi ini. Ramadhan sebagai "Shahrul Maghfirah" harus kita hiasi dengan meminta dan memberiakan ampunan.

Dengan mempersiapkan dan memprogram aktifitas kita selama bulan Ramadhan ini, insya Allah akan menghasilkan kebahagiaan. Kebahagiaan akan terasa istimewa manakala melalui perjuangan dan jerih payah. Semakin berat dan serius usaha kita meraih kabahagiaan, maka semakin nikmat kebahagiaan itu kita rasakan. Itulah yang dijelaskan dalam sebuah hadist Nabi bahwa orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan.

Pertama yaitu kebahagiaan ketika ia "Ifthar" (berbuka). Ini artinya kebahagiaan yang duniawi, yang didapatkannya ketika terpenuhinya keinginan dan kebutuhan jasmani yang sebelumnya telah dikekangnya, maupun kabahagiaan rohani karena terobatinya kehausan sipritualitas dengan siraman-siraman ritualnya dan amal sholehnya.

Kedua, adalah kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya. Inilah kebahagian ukhrawi yang didapatkannya pada saat pertemuannya yang hakiki dengan al-Khaliq. Kebahagiaan yang merupakan puncak dari setiap kebahagiaan yang ada.

Akhirnya, hikmah-hikmah puasa dan keutamaan-keutaman Ramadhan di atas, dapat kita jadikan media untuk bermuhasabah dan menilai kualitas puasa kita. Hikmah-hikmah puasa dan Ramadhan yang sedemikian banyak dan mutidimensional, mengartikan bahwa ibadah puasa juga multidimensional. Begitu banyak aspek-aspek ibadah puasa yang harus diamalkan agar puasa kita benar-benar berkualitas dan mampu menghasilkan nilai-nilai positif yang dikandungnya. Seorang ulama sufi berkata "Puasa yang paling ringan adalah meninggalkan makan dan minum". Ini berarti di sana masih banyak puasa-puasa yang tidak sekedar beroleh dengan jalan makan dan minum selama sehari penuh, melainkan 'puasa' lain yang bersifat batiniah.

Semoga dengan mempersiapkan diri kita secara baik dan merencanakan aktifitas dan ibadah-ibadah dengan ihlas, serta berniat "liwajhillah wa limardlatillah", karena Allah dan karena mencari ridha Allah, kita mendapatkan kedua kebahagiaan tersebut, yaitu "sa'adatud-daarain" kebahagiaan dunia dan akherat. Semoga kita bisa mengisi Ramadhan tidak hanya dengan kuantitas harinya, namun lebih dari pada itu kita juga memperhatikan kualitas puasa kita.

Tingkatan Puasa

@@ Tingkatan Puasa @@

Menurut Imam al-Ghazali dalam bukunya Ihya Ulumuddin, tingkatan puasa diklasifikasi menjagi tiga, yaitu puasa umum, puasa khusus, dan puasa khusus yang lebih khusus lagi.

Puasa umum adalah tingkatan yang paling rendah yaitu menahan dari makan, minum dan jima'. Puasa khusus, di samping menahan yang tiga hal tadi, juga memelihara seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat atau tercela. Sedangkan puasa khusus yang lebih khusus adalah puasa hati dari segala kehendak hina dan segala pikiran duniawi serta mencegahnya memikirkan apa-apa yang selain Allah.

Puasa level ketiga tadi adalah puasanya para nabi-nabi, shiddiqin, dan muqarrabin. Sedangkan puasa level kedua adalah puasanya orang-orang salih - puasa tingkat ini yang seharusnya kita tuju untuk mencapainya.

Selanjutnya imam Al Ghazali menjelaskan enam hal untuk mencapai kesempurnaan puasa tingkatan kedua itu. Pertama, menahan pandangan dari segala hal yang dicela dan dimakruhkan serta dari tiap-tiap yang membimbangkan dan melalaikan dari mengingat Allah. Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa meninggalkan pandangan karena takut kepada Allah, niscaya Allah menganugerahkan padanya keimanan yang mendatangkan kemanisan dalam hatinya.

Kedua menjaga lidah dari perkataan yang sia-sia, berdusta, mengumpat, berkata keji, dan mengharuskan berdiam diri, menggunakan waktu untuk berzikir kepada Allah serta membaca Alquran. "Dua perkara merusakkan puasa," sabda Rasulullah SAW, "Yaitu mengumpat dan berbohong."

Ketika, menjaga pendengaran dari mendengar kata-kata yang tidak baik, karena tiap-tiap yang haram diucapkan maka haram pula mendengarnya. Rasulullah SAW menjelaskan: Yang mengumpat dan yang mendengar, berserikat dalam dosa. Keempat, mencegah anggota-anggota tubuh yang lain dari perbuatan dosa. Seperti mencegah tangan dan kaki dari berbuat maksiat dan mungkar, mencegah perut dari memakan yang syubhat dan haram.

Kelima, tidak berlebih-lebihan dalam berbuka sampai perutnya penuh makanan. Orang yang berbuka secara berlebihan tentu tidak akan dapat memetik manfaat dan hikmah puasa. Bagaimana dia berusaha mengalahkan musuh Allah dan mengendalikan hawa nafsunya, jika saat berbuka dia justru memanjakan nafsunya dengan makanan yang terhitung banyak dan jenisnya.

Keenam, hatinya senantiasa diliputi perasaan cemas (khauf) dan harap (raja'), karena tidak diketahui apakah puasanya diterima atau tidak oleh Allah. Rasa cemas diperlukan untuk meningkatkan kualiti puasa yang telah dilakukan, sedangkan penuh harap berperanan dalam menumbuhkan optimisme.

KHUTBAH NABI MENYAMBUT Ramadhan

@@ KHUTBAH NABI MENYAMBUT @@
@@ Ramadhan @@

"Wahai manusia, sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu'."

"Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain."

"Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan (syahrul muwasah) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya."

"Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang."

Para sahabat berkata, "Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, "Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu."

"Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka."

"Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya."

"Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka."

"Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga." (HR. Ibnu Huzaimah).

Berbagai Peristiwa di Bulan Ramadhan

Berbagai Peristiwa di Bulan Ramadhan

Di bulan Ramadhan Al Qur’an di turunkan. Dialah wahyu Allah yang menjadi petunjuk hidup manusia. Dialah mu’jizat yang dianugerahkan Allah kepada manusia.

Tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijrah, hari Jum’at pagi, terjadi peperangan Badr al-Kubra. Sebuah perang besar terbuka yang pertama kalinya terjadi antara kaum Muslimin melawan kaum musyrik. Pertempuran terjadi di sebuah lembah di dekat kota Madinah, yaitu di Badr. Kekuatan kaum Muslimin waktu itu, sekitar 300 orang, setiap dua orang satu unta. Sedangkan kekuatan kaum kafir sekitar 1000 orang dengan perincian 700 orang naik unta dan lebih dari 100 orang adalah pasukan berkuda. Berarti satu orang Muslim harus menghadapi 3 lawan. Pertempuran dimenangkan oleh kaum Muslimin dengan gilang-gemilang.

Tanggal 18 Ramadhan tahun ke-8 Hijrah Rasulullah bersama 12 000 kaum Muslimin bertolak dari Madinah menuju Makkah untuk membebaskan Makkah. Peristiwa bebasnya kota Makkah terkenal dengan sebutan Futuh Makkah. Pembukaan kota Makkah menandai sebuah era baru di dalam Islam, setelah sebelumnya kaum Muslimin selalu disiksa, ditindas, bahkan terakhir dikepung oleh pasukan Ahzab (sekutu) selama berminggu-minggu di Madinah. Era baru yang dibangkitkan oleh Rasulullah dengan perang Ahzab dengan sabdanya,“Kaum Quraisy tidak akan berani mendatangi (menyerang) kamu sesudah tahun ini, telah lenyap musnah kekuatan mereka, dan mereka tidak akan memerangi kita sesudah hari ini, dan sekarang giliran kita akan memerangi mereka, Insya Allah.“

Bulan Ramadhan tahun ke-91 Hijrah, kaum Muslimin di bawah pimpinan panglima Thariq bin Ziad membuka Andalusia(Spanyol). Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Futuh Andalusia. Thariq bin Ziyad menyeberangi selat antara Afrika dan Eropah atas perintah Musa bin Nushair penguasa Islam kala itu. Ketika pasukan Islam sudah sampai di seberang, diperintahkannya agar kapal-kapal perang Islam dibakar. Kemudian ia berpidato didepan pasukannya :„Musuh di depan kalian. Apabila kalian mundur, maka lautan dibelakang kalian..“ Agaknya langkah yang beliau ambil dalam membangkitkan semangat kaum muslimin sangat tepat. Tidak ada lagi jalan untuk mundur. Yang ada hanyalah berjuang sekuat tenaga dan mengharap pertolongan Allah. Berturut-turut kota demi kota jatuh ke tangan kaum Muslimin. Akhirnya pada bulan Ramadhan jatuhlah Andalusia ke tangan kaum Muslimin. Sejarah mencatat bahwa di kemudian hari Andalusia menjadi pusat ilmu pengetahuan dan menjadi mercu peradaban manusia di zamannya. Kemajuan teknologi yang diperoleh orang-orang Eropah zaman sekarang hanyalah merupakan perpanjangan teknologi umat Islam masa silam.

Futuh bilaad Al-Ghaal (dibukanya daerah „Ghaal“ atau dalam bahasa Perancis pays des Gualles). Jatuhnya daerah Ghaal yang sekarang letaknya di Perancis juga terjadi di bulan Ramadhan. Peristiwa ini terjadi di zaman Islam di Andalusia.

Ma’rakah ‘Ainu Jaaluut (perang ‘ainu jaaluut). Peperangan ini terjadi dengan latar belakang jatuhnya Daulah Abbasiyyah. Kala itu pasukan Tartar (Mongol) yang ganas mengirim ekspedisi ke arah barat. Ketika sampai di daerah kekhalifahan Abbasiyyah terjadilah pengacauan-pengacauan sampai akhirnya mereka bergerak menuju Baghdad. Baghdad yang kala itu merupakan pusat intelek berhasil mereka hancurkan. Khalifah beserta segenap keluarganya mereka bunuh. Buku-buku perpustakaan di Baghdad mereka tenggelamkan di Sungai Tigris untuk membuat jembatan penyeberangan. Dalam sejarah digambarkan betapa air sungai Tigris kala itu berwarna kehitam-hitaman karena terlalu banyaknya tinta yang larut. Demikianlah akhir dari sebuah peradaban modern Islam di Baghdad. Pasukan Mongol terus bergerak ke barat menuju Syams (sekarang meliputi Syria, Palestina, Yordania, Libanon). Umat Islam tidaklah tinggal diam membiarkan orang-orang kafir merobek-robek kemuliaan umat. Penguasa Mesir kala itu Sa ifuddin Quths menggerakkan pasukan Islam menuju Syams untuk menghalang orang-orang Mongol. Seorang tokoh penting yang sangat berpengaruh membentuk kepribadian Quths adalah seorang ulama yang bernama Al-’Izz bin ‘abdis Salaam. Beliaulah yang mentarbiyyah (membina) Saifuddin Quths menjadi seorang berkepribadian islami. Dua buah pasukan besar tersebut akhirnya bertemu di sebuah tempat yang bernama ‘Ainul Jaaluut (letaknya di Palestina). Sejarah akhirnya mencatat bahwa di‘ainul Jaaluut-lah akhirnya ekspansi pasukan Tartar dipatahkan oleh kaum Muslimin.

7/30/2009

Pengrtian Iman

Dinnul Islam atau juga dikatakan Al Islam ialah satu penataan hidup
(budaya kehidupan) yang tangguh tiada tanding. Dimana adalah
merupakan system budaya hidup yang adil makmur, saling menghambur
kasih , tolong menolong, nasehat-menasehati, saling lindung
melindungi, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi bagaikan satu
bangunan jasad (kal jasadi wahid).Tapi kenapa kini sesudah sekian
abad Al Qur'an diturunkan kita tidak melihat Al Islam itu muncul
dipermukaan. Kita lihat system hidup sekarang adalah satu budaya
hidup yang saling hantam, peperangan dimana-mana, kemiskinan semakin
menjadi-jadi, yang kuat menindas yang lemah, pembunuhan,
pemerkosaan, perampokan, penindasan, hukum jadi mainan orang
berduit, perjudian, sex bebas, korupsi dan kolusi pejabat, dan lain-
lain. Seolah-olah kehidupan ini mundur ke belakang ke sebelum Al
Qur'an diturunkan yakni abad kehidupan jahiliyah. Kenapa ini
terjadi ? apanya yang salah? Al Qur'an-kah? Atau kita ? dengan jujur
kita katakan bahwa kitalah yang salah. Kita akui bahwa kita
memperlakukan Al Qur'an tidak lebih hanya sebagai hiasan rumah
penunggu lemari, sebagai hiasan mulut dengan bacaan-bacaan yang
indah, sebagai ilmu mistik yang diagung-agungkan yang mengharapkan
keajaiban dari ayat-ayatnya.
Oleh sebab itu mari sekarang kita kembalikan Al Qur'an pada fungsi
yang sebenarnya yakni sebagai pedoman bagi yang mau hidup muttaqin,
seperti dijelaskan dalam surat Al Baqarah ayat 2 sbb:
"Ini satu kitab yang tidak diragukan lagi keilmiahannya sebagai
pedoman hidup bagi yang mau hidup dengan penataan yang tiada
tanding".
Turunnya Al Qur'an ke muka bumi adalah satu anugerah yang besar
untuk kehidupan manusia. Tetapi untuk menjadikannya pedoman hidup
perlu perjuangan dengan mengerahkan segenap kemampuan. Dalam
perjuangan itu perlu satu dasar yang kuat sebagai motifator yang
mendorong dan membakar daya kemampuan kita. Dasar yang kuat itu
adalah Iman. Iman sebagai landasan harus dipahami dengan benar,
sebab jika salah memahaminya maka seterusnya kita akan berada dalam
kesalahan yang tiada berujung.
Oleh karena itu kita mulai saja dengan pembahasan masalah Iman.

PENGERTIAN IMAN SECARA UMUM

Kenapa yang pertama itu diajukan Pengertian Iman Secara Umum ? sebab
istilah iman ini merupakan istilah kunci (strategis) didalam study
Al-Qur'an. Jika istilah iman ini tidak terpecahkan maka tidak akan
memahami semua istilah didalam Al-Qur'an. Dan jika istilah iman itu
diartikan salah maka tidak ada jaminan yang lainnya itu akan benar.
Kita akan membagi pembahasan ini sebagai berikut:
1. Arti Kata Iman.
2. Ruang Lingkup Iman
3. Nilai dan Harga Iman
4. Definisi Iman
5. Sejarah Iman.

1. Arti Kata Iman

Yang dimaksud Arti Kata adalah pemecahan bentuk kata menjadi bentuk
kata yang lain atau hubungan satu bentuk kata dengan kata yang lain.
Sehingga Arti Kata Iman adalah pemecahan bentuk kata Iman sebagai
kata dasar menjadi berbagai bentuk kata yang lain. Sehingga kita
akan menemukan di dalam Al-Qur'an kata-kata : aamana , yu minu , ii
maanan, yang merupakan hasil pemecahan dari bentuk kata Iman.
Terjemahan umum dari kata-kata tersebut adalah:
aamana = telah / sudah ber-iman.
yu minu = sedang / akan / lagi ber-iman.
iimanan = Iman
mu minu = yang ber-iman.
Didalam memberikan definisi tentang perkataan Iman ini menurut yang
ada sama dengan Percaya atau menurut Arab sama dengan : 'aqdun bil
qolbi faqath . Sedangkan Iman berdasarkan Al-Qur'an, seperti
dijelaskan oleh hadits:
Al iimaanu 'aqdun bil qolbi wa ikraarun bil lisani wa 'amalu bil
arkan.
Artinya : Iman adalah tanggapan hati (proses menanggapi) kemudian
dinyatakan dalam lisan (proses pernyataan diri/sikap) dan menjelma
kedalam seluruh laku perbuatan (proses pembuktian dalam hidup). Atau
dengan kata lain Iman adalah tambatan hati yang menggema ke dalam
seluruh ucapan dan laku perbuatan.
Dengan arti perkataan Iman berdasarkan hadits tersebut di
atas sebenarnya sudah sekaligus memberikan Ruang Lingkup Iman.

2. Ruang Lingkup Iman.

Yang dimaksud Ruang Lingkup adalah batasan-batasan yang
disentuh oleh arti perkataan. Seperti contoh sebidang kebun, ruang
lingkup kebun berarti batasan-batasan yang disentuh oleh kebun itu
sendiri, sebelah barat-timur-utara-selatan-nya dengan apa.
Berdasarkan hadits tersebut maka Ruang Lingkup Iman meliputi:
'aqdun bil qlbi = tanggapan hati, ikraarun bil lisani = pernyataan
lisan,'amalun bil arkan = pembuktian dalam perbuatan. Dengan
demikian maka ruang lingkup iman meliputi tiga aspek aktivitas hidup
manusia, yaitu aspek penanggapan, aspek pernyataan dan aspek
pembuktian. Dari aspek penanggapan dan pernyataan akan melahirkan
atau membentuk satu Pandangan Hidup dan dari ketiga aspek akan
membentuk Sikap Hidup. Jadi berdasar pada Hadits di atas dapat
diambil kesimpulan bahwa Iman sama dengan Pandangan dan Sikap dalam
perjalanan hidup atau Pandangan dan Sikap Hidup.
Perkataan Iman tidak akan menjadi sempurna kecuali jika
kepadanya ditambahkan atau dihubungkan dengan perkataan yang lain.
Dengan kata lain perkataan Iman belum bernilai kecuali bila
digandeng dengan sesuatu yang lain. Jadi kita tidak tahu apa yang
ditanggapi kemudian apa yang diikrarkan dan apa yang akan dibuktikan
dalam amal perbuatan.

3. Nilai dan Harga Iman

Nilai adalah kemampuan sesuatu membikin sedemikian rupa,
sedangkan Harga adalah sejumlah pengorbanan untuk mendapatkan nilai.
Contoh beras. Satu liter beras mempunyai kemampuan (bernilai) untuk
mengenyangkan tiga orang dalam satu waktu tertentu. Kemampuan
(nilai) beras tidak dipengaruhi oleh mau atau tidak mau-nya
manusia. Untuk mendapatkan satu liter beras kita harus mengeluarkan
sejumlah pengorbanan misalnya sejumlah uang sesuai dengan harga
beras tersebut. Pengorbanan disini bukan pada bentuk uangnya tapi
pada kerja kita untuk mendapatkan uang tersebut. Jadi Nilai ada pada
benda (dalam hal ini beras) dan harga ada pada manusia (bentuk
pengorbanannya).
Nilai Iman adalah kemampuan isi Iman menghantarkan manusia
membentuk satu tatanan budaya kehidupan yang tangguh. Harga Iman
adalah sejumlah pengorbanan yang kita lakukan untuk mendapatkan
Nilai Iman.
Seperti telah disinggung di atas bahwa perkataan Iman belum
bernilai sebelum digandeng dengan perkataan yang lain. Iman akan
bernilai setelah digandeng dengan satu ajaran, seperti dalam surat
Al-Baqarah ayat 4 sbb:
Artinya: "(Yang disebut Muttaqin) yaitu yang hidup berpandangan dan
bersikap dengan apa yang telah diturunkan menurut sunnah anda
(Muhammad) yakni yang sama dengan apa yang telah diturunkan menurut
sunnah Rasul-Rasul sebelum anda, dengan mana mereka meyakini tujuan
terakhir (Hasanah di dunia dan hasanah di akhirat) dalam keadaan
bagaimana pun".
Seperti berdasar hadits bahwa Iman adalah Pandangan dan
Sikap Hidup, maka yu minuuna bima ungjila ilaika jangan lagi
diartikan mereka yang percaya pada penurunan Al Qur'an , tetapi
mereka yang berpandangan dan bersikap hidup dengan sesuatu yakni Al-
Qur'an yang telah diturunkan menjadi menurut sunnah Rasul (Muhammad)
atau Al Qur'an menurut sunnah Rasul . Jadi disini nilai Iman
ditentukan oleh ajaran Allah yakni Al-Qur'an menurut sunnah Rasul
dan Iman yang demikian disebut Iman yang bernilai Haq. Maka
konsekwensinya: wa bil akhirati hum yu qinun akan mencapai satu
kesudahan terakhir hasanah fid dunya wa hasanah fil akhirat.
Sesungguhnya nilai Iman itu tidak hanya ditentukan oleh Al-
Qur'an menurut sunnah Rasul saja, tetapi bisa juga oleh ajaran lain
seperti diberitakan dalam surat An-Kabut ayat 52 sbb
Artinya: "Tegaskan (hai Muhamad/Orang Beriman) cukuplah Allah
(dengan pembuktian Al Qur'an ms rasul) ini menjadi pemberi kesaksian
diantara saya (yang hidup berpandangan dan bersikap dengan Al-Qur'an
menurut Sunnah Rasul ) dan kalian (yang hidup berpandangan dan
bersikap dengan Dzulumat menurut Sunnah Syayatin). (Allah) yang meng-
Ilmu-i segala kehidupan organis - biologis dan kehidupan sosial
budaya. Dan mereka hidup berpandangan dan bersikap dengan ajaran
Bathil, yaitu mereka yang bersikap negatif terhadap ajaran Allah (Al-
Qur'an menurut sunnah Rasul-Nya) niscaya mereka yang demikian adalah
yang hidup rugi (perusak kehidupan dimana saja pun)".
Jadi nilai Iman disini ditentukan oleh ajaran Bathil dan
Iman yang demikian dikatakan Iman yang bernilai Bathil. Maka
konsekwensinya ula ika humul khaasiruun niscaya mereka yang demikian
adalah yang hidup rugi/perusak kehidupan dimana saja pun.
Apa itu ajaran Bathil? Maka berdasarkan surat An-Nisa ayat
51 :Artinya; "Tidakkah kalian melihat mereka yang telah mendapat
nasib kehidupan sial dari para Ahli Kitab, mereka hidup berpandangan
dan bersikap menurut ajaran Idealisme (Jibti) dan Naturalisme
(Thagut) dan mereka berkata kepada yang bersikap negative terhadap
ajaran Allah ms Rasul (hidup atas pilihan Dzulumat ms Syayatin)
bahwa: dibanding dengan mereka yang hidup berpandangan dan bersikap
dengan ajaran Allah ms Rasul-Nya, mereka memiliki system kehidupan
yang lebih ilmiah adanya".
Ajaran Bathil itu terdiri dari ajaran Jibti (Idealisme) dan Thagut
(Naturalisme).

Pembuktian siapa mereka penganut ajaran Bathil sebenarnya perhatikan
Surat Al-Bayyinah ayat 1 sbb:
Artinya: "Orang-orang kafir (yg bersikap negative terhadap ajaran
Allah ms Rasul) yang terdiri dari para Ahli Kitab dan musyrikin
(yang hidup dualisme dengan Dzulumat ms Syayatin) tidak akan
meninggalkan (ajaran Dzulumat ms Syayatin), sebelum mereka mendapat
pembuktian ilmiah (dari Allah ms Rasul-Nya)".
Jadi berdasar ayat di atas bahwa Jibti = Ahlul Kitab
sedangkan Thagut = Musyrikin dan mereka semua adalah golongan Kafir.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Al-Qur'an
memberikan nilai kepada perkataan Iman menjadi dua golongan yakni
Iman Haq dan Iman Bathil. Dimana Iman Haq adalah Pandangan dan
Sikap hidup dengan ajaran Al Qur'an menurut sunnah Rasul atau
dengan Ajaran Nur sedangkan Iman Bathil adalah Pandangan dan Sikap
hidup dengan ajaran Dzulumat menurut sunnah Syayatin atau Ajaran
Dzulumat.

4. Definisi Iman.

Yang dimaksud dengan definisi adalah keterangan singkat yang
menggambarkan wujud makna secara menyeluruh dan bulat dari satu
uraian.
Definisi Iman terbagi menjadi :
a. Definisi Iman Secara Umum, yaitu Pandangan dan Sikap Hidup
baik dengan ajaran Allah dan atau selainnya.
b. Definisi Iman Secara Khusus :
1) Iman Haq, Pandangan dan Sikap Hidup dengan ajaran Al Qur'an
menurut sunnah Rasul pelakunya disebut Mu'min.
2) Iman Bathil, Pandangan dan Sikap Hidup dengan ajaran
Dzulumat menurut sunnah Syayatin , pelakunya disebut Kafir.

Begitulah definisi Iman berdasarkan Al-Qur'an ms Rasul, yang oleh
Nabi Muhamad saw telah diajarkan pada permulaan abad ke 7 Masehi.
Dan tanggapan abad ke 20 sekarang ini bahwa Iman ialah Percaya,
menjadi bukti bawa `iman sama denga percaya' adalah satu produk
sejarah oleh tangan-tangan kotor manusia.

6/04/2009

Kiat Sukses Membangun Kepercayaan Diri

Kiat Sukses Membangun Kepercayaan Diri


Banyak ahli menilai, percaya diri merupakan faktor penting yang menimbulkan perbedaan besar antara sukses dan gagal. Karenanya, tidak sedikit pula yang memberikan pandangannya mengenai teknik-teknik membangkitkan rasa percaya diri.


Dalam dimensi yang sangat luas, sukses adalah milik semua orang. Tetapi, tidak semua orang tahu bagaimana cara mendapatkan atau meraih kesuksesan. Kebanyakan orang menilai bahwa kesuksesan adalah milik orang-orang yang ber-IQ tinggi, lulusan sekolah terbaik dan memilih spesialisasi yang paling terkenal.

Penilaian ini memang tidak sepenuhnya salah, tetapi kita juga harus melihat fenomena yang lebih luas, bahwa tidak sedikit orang-orang sukses yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Dengan kata lain, IQ tinggi, lulusan sekolah terbaik dan spesialisasi yang terkenal hanyalah bagian dari penunjang kesuksesan.

Di luar kemampuan itu, ada faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam memprediksi kesuksesan seseorang; itulah yang kita sebut, antusiasme, hasrat, ketekunan, kerja keras, serta kebulatan tekad seumur hidup yang dimilikinya.

Sebagian pakar menilai bahwa untuk mencapai sukses, kematangan pribadi seseorang sangat dibutuhkan. Sebab kematangan pribadi akan mengantarkan seseorang pada sikap optimis dan kesadaran bahwa apa yang dicita-citakannya akan mudah diraih.

Di sisi lain, meraih kesuksesan jelas bukanlah perkara gampang. Ketika kita berusaha untuk meraih apa yang kita inginkan, tentu banyak tantangan yang harus dihadapi. Ada kalanya seseorang begitu tegar, tetapi tidak sedikit juga yang patah semangat bahkan menyerah karena merasa tidak sanggup menghadapi tantangan yang ada di depannya.

Pada saat semacam inilah, rasa percaya diri sangat penting ditumbuhkan. Banyak ahli menilai bahwa percaya diri merupakan faktor penting yang menimbulkan perbedaan besar antara sukses dan gagal. Karenanya, tidak sedikit pula yang memberikan pandangannya mengenai teknik-teknik membangkitkan rasa percaya diri. Berikut ini adalah beberapa kiat guna membangun percaya diri.

Pertama, berani menerima tanggung jawab. Gerald Kushel, Ed.D., direktur The Institute of Effective Thinking, pernah mengadakan penelitian terhadap sejumlah manajer. Dari penelitian tersebut, Kushel menyimpulkan bahwa ia menemukan sifat terpenting yang dimiliki oleh hampir semua manajer yang memiliki kinerja tinggi.

Dan sifat tersebut adalah rasa tanggung jawab yang mendorong mereka untuk tampil "sempurna" tanpa peduli pada hambatan apapun yang menghadangnya. Sebaliknya, manajer yang berkinerja buruk dan gagal mencapai kapasitas maksimumnya cenderung melimpahkan kesalahannya pada siapa saja.

Kedua, kembangkan nilai positif. Jalan menuju kepercayaan diri akan semakin cepat manakala kita mengembangkan nilai-nilai positif pada diri sendiri. Menurut psikolog Robert Anthony, PhD., salah satu cara untuk mengembangkan nilai-nilai positif adalah dengan menghilangkan ungkapan-ungkapan yang mematikan dan menggantinya dengan ungkapan-ungkapan kreatif. Dia menganjurkan membuat peralihan bahasa yang sederhana tapi efektif dari pernyataan negatif ke pernyataan positif. Misalnya, mengganti kata, "Saya tidak bisa," menjadi, "Saya bisa!"

Ketiga, bacalah potensi diri. Segeralah lacak, gali, dan eksplorasi potensi sukses yang ada pada diri kita. Misalnya dengan bertanya kepada orang-orang terdekat. Termasuk juga mengikuti psikotes dan mendatangi para ahli seperti psikiater, dokter bahkan kiai untuk melacak potensi kita. Karena bisa jadi sangat banyak potensi yang kita miliki tanpa kita sadari, sehingga tidak berhasil kita gali.

Keempat, berani mengambil risiko. Keberanian dalam mengambil risiko ini penting, sebab daripada menyerah pada rasa takut alangkah lebih baik belajar mengambil risiko yang masuk akal. Cobalah menerima tantangan, kendati terasa menakutkan atau menciutkan hati. Cari dukungan sebanyak mungkin.

Dengan melakukan hal ini, kita akan mendapat banyak peluang yang tak ternilai harganya. Namun jangan lupa, ketika mencoba sesuatu kita harus siap dengan hasil yang sesuai atau tidak sesuai dengan keinginan.

Kalau hasilnya tak sesuai dengan keinginan, bisa jadi itulah yang terbaik menurut Allah Azza wa Jalla. Kalau kita sudah mencoba, maka niatnya saja sudah menjadi amal. Orang yang gagal adalah orang yang tak pernah berani mencoba. Bukankah menaiki anak tangga kelima puluh harus diawali dengan tangga pertama?

Kelima, tolaklah saran negatif. Bisa jadi, tidak semua orang di sekitar kita memberikan dorongan, dukungan, dan bersikap positif pada kita. Sebagian dari orang yang ada di sekitar kita mungkin berpikiran negatif. Hal inilah yang tak jarang malah melunturkan rasa percaya diri kita dengan mempertanyakan kemampuan, pengalaman, dan aspirasi-aspirasi kita.

Dengan demikian, mungkin ada baiknya jika kita sedikit mengambil jarak dengan sebijak mungkin bila ada pihak-pihak yang mencoba melunturkan kepercayaan diri kita. Keenam, ikuti saran positif. Rasa percaya diri merupakan sifat "menular". Artinya, jika kita dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki cara pandang positif, bersemangat, optimis, dsb, maka kita memiliki kecenderungan untuk meniru sifat tersebut.

Karena itu, carilah lingkungan yang bisa memotivasi kita untuk sukses. Kita harus mulai senang bergaul dengan orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk bangkit. Bergaul dengan orang-orang yang percaya diri akan berbeda dibandingkan bergaul dengan orang-orang yang gagal. Sebab bergaul dengan orang-orang yang percaya diri, Insya Allah semangatnya akan menular kepada diri kita.

Ketujuh, jadikan keresahan sebagai kawan. Banyak peristiwa atau saat-saat dalam kehidupan yang dapat membuat kita mengalami rasa cemas atau gelisah. Akibatnya, kita mengalami krisis percaya diri. Saat itulah kita harus mulai mengingatkan diri sendiri bahwa rasa cemas dan gelisah merupakan kawan. Tingkatkan energi, tajamkan kecerdasan, tinggikan kewaspadaan, dan kembangkan pancaindera. Daripada menyia-nyiakan energi untuk kecemasan yang sia-sia, lebih baik menghadapi tantangan itu secara tegas dan efektif.

Sesudah perhitungan kita matang, selanjutnya kepercayaan diri akan bertambah dengan memperkokoh ibadah dan doa, karena doa dan ibadah dapat mengundang pertolongan Allah. Semakin kokoh ibadah kita, shalat kita, makin kuat doa-doa kita, dan keyakinan kita dengan pertolongan Allah, maka itu bisa meningkatkan percaya diri.

Kita harus benar-benar menyadari bahwa Allah menciptakan kita benar-benar dengan perhitungan dan pertimbangan Yang Mahacermat. Seperti di firmankan Allah SWT dalam Quran surat at-Tiin ayat 4, "La qad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim" (Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya). Wallahu a`lam.n deny riana/mqp

Sumber : http://www.republika.co.id/

6/03/2009

Tanda-Tanda kiamat

Tanda-Tanda kiamat

* Keluar sejenis binatang dari perut bumi yang digelar Dabbatul Ardhi.
* Lahirnya Dajjal.
* Keluar asap tebal.
* Turunnya Nabi Isa a.s.
* Kemunculan Imam Mahdi.
* Matahari terbit dari ufuk barat.
* Keluarnya suku Ya'juj dan Ma'juj.
* Diangkat Al-Quran dan perkara-perkara yang baik
* Runtuhnya Ka'abah
* Terdengar tiupan sangkakala pertama.
* Ada azan tak di jawab
* 3 kali gempa bumi, sekali di timur, sekali di barat, dan yang ketiga di Semenanjung Arab


Tanda-tanda kiamat

Telah dinyatakan bahawa tanda-tanda kiamat adalah petunjuk atau isyarat yang sudah hampirnya hari kiamat dan bakal menyusul pula tanda-tanda kiamat besar. Sebahagian ulama telah mengira tanda-tandanya dan menemui lebih 90 tanda walaupun berbeza menurut para penghitungnya.

Didapati kini bahawa seluruh tanda-tanda kecil telah muncul dan terbukti seperti yang dinyatakan dalam hadis iaitu sabda Nabi Muhammad s.a.w. sendiri. Kebanyakan hadis-hadis ini dapat ditemukan di dalam Sahih Muslim, Sahih Bukhari dan Riwayat Tarmizi.

[sunting] Tanda-tanda menurut dalil

* Penaklukan Baitulmuqaddis

“ Dari Auf b. Malik r.a., katanya, "Rasulullah s. a. w. telah bersabda:"Aku menghitung enam perkara menjelang hari kiamat." Baginda menyebutkan salah satu di antaranya, iaitu penaklukan Baitulmuqaddis." - Sahih Bukhari[1] ”

* Zina bermaharajalela[perlu petikan]

“ "Dan tinggallah manusia-manusia yang buruk, yang seenaknya melakukan persetubuhan seperti himar (keldai). Maka pada zaman mereka inilah kiamat akan datang." - Sahih Muslim ”

* Pemimpin yang terdiri dari orang yang jahil dan fasik[perlu petikan]

* Bermaharajalela alat muzik[perlu petikan]

“ Pada akhir zaman akan terjadi tanah runtuh, rusuhan dan perubahan muka."Ada yang bertanya kepada Rasulullah; "Wahai Rasulullah bila hal ini terjadi?" Baginda menjawab; "Apabila telah bermaharajalela bunyi-bunyian (muzik) dan penyanyi-penyanyi wanita" - Ibnu Majah ”

* Menghias masjid dan membanggakannya[perlu petikan]

“ Di antara tanda-tanda telah dekatnya kiamat ialah manusia bermegah-megahan dalam mendirikan masjid" - Riwayat Nasai. ”

* Munculnya kekejian, memutuskan kerabat dan hubungan dengan tetangga tidak baik[perlu petikan]

“ Tidak akan datang kiamat sehingga banyak perbuatan dan perkataan keji, memutuskan hubungan silaturahim dan sikap yang buruk dalam tetangga." - Riwayat Ahmad dan Hakim ”

* Ramai orang menuntut ilmu kerana pangkat dan kedudukan[perlu petikan]

* Ramai orang soleh meninggal dunia[perlu petikan]

“ Tidak akan datang hari kiamat sehingga Allah mengambil orang-orang yang baik dan ahli agama dimuka bumi, maka tiada yang tinggal padanya kecuali orang-orang yang hina dan buruk yang tidak mengetahui yang makruf dan tidak mengingkari kemungkaran - Riwayat Ahmad ”

* Orang hina mendapat kedudukan terhormat[perlu petikan]

“ Di antara tanda-tanda semakin dekatnya kiamat ialah dunia akan dikuasai oleh Luka' bin Luka'(orang yang bodoh dan hina). Maka orang yang paling baik ketika itu ialah orang yang beriman yang diapit oleh dua orang mulia" - Riwayat Thabrani ”

* Mengucapkan salam kepada orang yang dikenalnya sahaja[perlu petikan]

“ "Sesungguhnya di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah manusia tidak mahu mengucapkan salam kepada orang lain kecuali yang dikenalnya saja." - Riwayat Ahmad ”

* Banyak wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang [perlu petikan]

“ Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.
"Di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah akan muncul pakaian-pakaian wanita dan apabila mereka memakainya keadaannya seperti telanjang." ”

* Bulan sabit kelihatan besar[perlu petikan]

“ Di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah menggelembung (membesarnya) bulan sabit." - Riwayat Thabrani ”

* Banyak dusta dan tidak tepat dalam menyampaikan berita

“ Pada akhir zaman akan muncul pembohong-pembohong besar yang datang kepadamu dengan membawa berita-berita yang belum pernah kamu dengar dan belum pernah didengar oleh bapa-bapa kamu sebelumnya, kerana itu jauhkanlah dirimu dari mereka agar mereka tidak menyesatkanmu dan memfitnahmu" - Sahih Muslim ”

* Banyak saksi palsu dan menyimpan kesaksian yang benar

“ Sesungguhnya sebelum datangnya hari kiamat akan banyak kesaksian palsu dan disembunyikan kesaksian yang benar" - Riwayat Ahmad ”

* Negara Arab menjadi padang rumput dan sungai

“ Tidak akan datang hari kiamat sehingga negeri Arab kembali menjadi padang rumput dan sungai-sungai." - Sahih Muslim ”

* Banyaknya sifat bohong dan ia menjadi perkata biasa[perlu petikan]

* Jarak-jarak antara pasar menjadi dekat (menunjukkan banyaknya kegiatan perdagangan)[perlu petikan]

“ Banyaknya sifat bohong, pendeknya waktu, dekatnya jarak-jarak antara pasar-pasar." - Riwayat Bukhari ”

* Manusia mewarnai rambut di kepalanya dengan warna hitam supaya kelihatan muda[perlu petikan]

“ Pada akhir zaman akan muncul suatu kaum yang mencelupi rambut mereka dengan warna hitam seperti 'bulu merpati' yang mereka itu tidak akan mencium bau syurga." - Sahih Abu Daud & Nasai ”

* Kekayaan umum dikuasai segelintir orang tanpa kebenaran dan tanpa rasa takut, termasuk rasuah dan mengambil harta secara tersembunyi.

-hadis bawah-

* Akan terdapat banya pengkritik, pembawa-cerita, penikam-belakang dan pengejek dalam masyarakat.

-hadis bawah-

* Orang akan mendirikan hubungan dengan orang tak dikenali dan memutuskan hubungan dengan yang rapat dan disayangi.

-hadis bawah-

* Orang akan melakukan homoseksual.

-hadis bawah-

* Akan terdapat ramai anak luar nikah.

- Abdullah Ibn Mas'ood (R.A.)

* Berkurangnya sifat amanah

-hadis bawah-

* Terasa berat untuk menjalankan syariah (zakat dijadikan hutang)

-hadis bawah-

* Lelaki mentaati isterinya tetapi menderhakai ibunya

-hadis bawah-

* Lelaki berkasar dengan bapanya tetapi beramah dengan rakannya

-hadis bawah-

* Suara manusia meninggi (menjerit dan berteriak) di masjid-masjid

-hadis bawah-

* Pemimpin suatu kaum adalah keji dan pemimpin suatu suku adalah fasik

-hadis bawah-

* Lelaki dihormati bukan kerana budi dan kebaikan tetapi kerana takut akan kejahatannya

“ Dari Ali dan Abu Hurairah r.a.: "Apabila harta rampasan perang (milik umum) dikuasai segelintir orang sahaja, barang amanah menjadi rampasan, harta zakat menjadi hutang, seorang lelaki mentaati isterinya dan menderhakai ibunya, berbuat baik kepada temannya dan berbuat kasar kepada bapanya, suara-suara tinggi di masjid-masjid, yang menjadi pemimpin suatu kaum (bangsa) adalah orang yang hina (berkelakuan/bersifat keji) di antara mereka dan orang yang menjadi ketua suatu suku (kabilah) adalah orang fasik di antara mereka, seorang lelaki dihormati kerana takut jahatnya, arak biasa diminum, sutera biasa dipakai (oleh lelaki), munculnya penyanyi perempuan dan alat-alat muzik, orang yang di kalangan umat terkemudian akan melaknat (mengutuk) umat terdahulu, maka ketika itu hendaklah mereka menunggu kedatangan angin merah atau pembalikan bumi atau keburukan bentuk-bentuk atau tanda-tanda yang beriringan seperti tali yang putus maka jatuhlah biji secara berterusan". - Riwayat Tarmizi ”

[perlu petikan]

* Anggota polis semakin ramai yang menunjukkan semakin banyak kerosakan

-hadis bawah-

* Mendahulukan lelaki menjadi imam bukan kerana ilmu tetapi kerana suara...

-hadis bawah-

* Penjualan jawatan atau kepemimpinan (politik wang)

-hadis bawah-

* Memandang rendah kepada darah

“ Rasulullah bersabda: "Bersegeralah untuk melakukan amal soleh apabila telah muncul enam perkara: perlantikan pemimpin yang boodoh, ramainya bilangan anggota polis, penjualan kepemimpinan, tiada penghargaan terhadap darah, pemutusan silaturrahim, orang mabuk menjadikan al-Quran sebagai alat nyanyi yang mereka mendahulukan seseorang antara mereka menjadi imam agar dapat menyanyikannya walaupun orang tersebut paling sedikit ilmunya." - Sahih Riwayat Tabrani & Ahmad ”

[perlu petikan]

* Seorang isteri bekerja dalam satu syarikat dengan suaminya. (Malah isteri berpangkat lebih besar)

“ Dari riwayat Ibnu Masud: "Di pintu gerbang (dekatnya) hari kiamat: Salam hanya kepada orang yang khusus (sudah dikenalinya), tersebar dan berkembangnya perdagangan sehingga seorang isteri membantu suaminya berdagang" - Sahih Lighairihi Riwayat Ahmad ”

[perlu petikan]

* Munculnya gaya hidup mewah dan manja di kalangan umat Islam

“ Apabila umatku berjalan dengan sombong dan yang melayan mereka adalah putera-puteri raja, putera-puteri Parsi dan Rom, maka orang yang paling buruk akan berkuasa terhadap orang yang paling baik (pilihannya)." - Riwayat Tarmizi, Sahih Abdullah ibnu Umar r.a. ”

[perlu petikan]

* Orang fasik dimuliakan sedangkan orang mulia dan terhormat direndahkan

“ Sungguh hebat dia, sunggu jarang orang seperti dia dan sungguh pintar dia sedangkan di dalamnya tidak ada iman sedikitpun" - Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad, Tarmizi, Ibnu Majah ”

[perlu petikan]

* Banyak orang berharap untuk mati kerana banyaknya kekacauan ataupun kesengsaraan

“ "Tidak akan berlaku kiamat sehingga apabila seorang lelaki melalui sebuah kubur maka ia akan berkata: 'Aduhai seandainya aku juga berada ditempatnya.'" - Riwayat Bukhari[2] dan Muslim ”

* Banyaknya berlaku gempa bumi[2]

* Banyaknya berlaku huru-hara yang menyebarkan kejahatan[2]

* Banyaknya berlaku pergaduhan dan pembunuhan[2]

“ "Kiamat tidak akan berlaku kecuali apabila ilmu telah diangkat, banyaknya berlaku gempa bumi, timbulnya huru-hara dan banyak pergaduhan iaitu pembunuhan - Sahih Bukhari[2] ”

* Munculnya mati mendadak atau mati secara tiba-tiba

-hadis bawah-

* Masjid dijadikan jalan iaitu seseorang muslim melalui masjid tanpa melakukan solat

“ Masjid dijadikan sebagai jalan-jalan dan timbulnya mati mendadak" - Hasan At-Tayalisy. ”

Rujukan

1. ↑ bin Abdul Lateef Az-Zubaidi, Al-Imam Zain-ud-Din Ahmad; Dr. Muhammad Muhsin Khan (1996). bab: “104”, The translation of the Meanings of Summarized Sahih Al-Bukhari (dalam bahasa Bahasa Arab dan Bahasa Inggeris), 638, Riyadh, Arab Saudi: Darussalam. "Narrated 'Auf bin Malik R.A."I went to the Prophet S.A.W. during the Ghazwa of Tabuk while he was sitting in a leather tent. He said, "Count six signs that indicate the apporach of the Hour: my death, the conquest of Jerusalem, a plague that will afflict you (and kill you in great numbers) as the plague that afflicts sheep, the increase of wealth to such an extent that even if one is given one hundred Dinars, he will not be satisfied; then an affliction which no Arab house will escape, and then a truce between you and Bani Al-Asfar (i.e. the Byzantines) who will betray you and attack you under eighty flags: Under each flag will be twelve thousand soldiers."
2. ↑ 2.0 2.1 2.2 2.3 2.4 bin Abdul Lateef Az-Zubaidi, Al-Imam Zain-ud-Din Ahmad; Dr. Muhammad Muhsin Khan (1996). bab: “10”, The translation of the Meanings of Summarized Sahih Al-Bukhari (dalam bahasa Bahasa Arab dan Bahasa Inggeris), 1022, Riyadh, Arab Saudi: Darussalam. "Narrated (Abu Huraira)" Allah's Messenger SAW said, "the Hour will not be establish till:(1) two big groups fight each other..(2) about thirty dajjal appear (liars).. (3) the religious knowledge is taken away... (4) earthquakes will increase in number (5) time will pass quickly (6) al-Fitan (trials and afflictions etc.) will appear, (7) al-Harj, (i.e., killing) will increase, (8) wealth will be abundance... (9) the people compete with one another in constructing high buildings, (10) a man passing by a grave of someone will say, "Would that I were in his place" (11) ... the sun rises from the west..."